0

Firman Permana adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. "Aiman" adalah nama panggilan keluargaku dirumah dan lingkungan kampung dimana aku dilahirkan. Aku lahir di Garut tepatnya di kampung Pagersari/Warung Goler pada tanggal 5 Oktober 1995. Aku anak pertama dari 5 bersaudara, satu adik laki-laki dan 3 orang adik perempuan. Masa kecilku sama seperti kehidupan anak pada umumnya, mungkin tidak ada yang istimewa seperti kalian yang sedang membaca dari itu sulit sekali menggambarkan kehidupanku diwaktu kecil. Masa kecilku ku habiskan dengan bermain permainan tradisional khas kampung seperti (Maen bola, sondah, ucing sumput, galah asin, maen gambar, sasapedahan dan masih banyak lagi permainan yang sudah lupa apa itu namanya). 

Cita-citaku dulu ingin menjadi pemain sepak bola profesional, sebelum akhirnya menyerah karena tersadarkan untuk jadi profesional itu harus disiplin dan terus giat berlatih. Setelah tidak bisa mewujudkan cita-cita untuk menjadi pemain sepak bola rasanya itu seperti tak ada rasa untuk menjadi apa-apa, yah begitulah hidup makin bertambah usia harapan untuk hidup semakin sederhana menjadi apapun kamu harus bermanfaat bagi orang banyak. Itu saja pegangan hidup untuk saat ini sesuai hadist rasul "Sebaik baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang banyak". 

Oh iya latar belakang pendidikanku dulu aku lulus SD tahun 2007 di SD Negeri Cimareme I, kemudian melanjutkan SMP di SMP Neger I Banyuresmi dan lulus tahun 2010. Setelah lulus SMP aku bingung mau melanjutkan kemana, kebanyakan teman sewaktu SMP mengajakku untuk melanjutkan ke SMK YPPT dan waktu itu karena diceritakan kalau sekolah di SMK itu akan mudah mendapatkan pekerjaan akhirnya aku memutuskan dan memaksa orang tua untuk melanjutkan ke SMK YPPT sebenarnya SMK YPPT itu bukan pilihan pertama, untuk pilihan pertama itu dulu aku ingin melanjutkan ke SMK Negeri 1 Garut, tetapi karena aku sadar klo nilaiku kurang bagus untuk masuk kesitu jadi aku putuskan untuk masuk ke SMK YPPT. Harapan untuk masuk ke SMK YPPT pudar alasannya karena kedua orang tuaku tak mampu untuk membayara uang bangunan dan biaya pendaftara yang sangat besar, aku tidak bisa memaksa karena aku sadar situasi keuangan keluargaku waktu itu sangatlah krisis. Singkat cerita kedua orangtuaku membujukku untuk masuk ke sekolah baru yaitu SMK Al-Ghifari dan aku pun mau menurutinya. Semua berkas telah masuk, tes tulis telah dilakukan, dan aku pun diterima menjadi siswa SMK Al-Ghifari. Sampai tiba saatnya masa orientasi pengenalan sekolah, hati kecilku berkata "Aku tidak akan belajar dengan baik disini, jadi berhentilah dan jangan dilanjutkan". Aku sadar daripada membebani kedua orangtua dengan prestasi sekolah yang buruk karena aku setengah hati bersekolah aku pun lebih memilih untuk berhenti untuk tidak melanjutkan sekolah.
Hari pertama sekolah pun tiba saat itu aku disuruh untuk membantu mang Uu membuat dan menembok batu nisan untuk nenek buyutku, disaat teman temanku pergi bersekolah menggunakan motor dari orang tuanya, aku sibuk mengangkut pasir dan batu bata dari jalan raya menuju makam nenek buyut yang jarak sekitar 500 m dari jalan raya.
Bisa dibayangkan bagaimana perasaanku waktu itu? hhmm terkadang jika aku mengingat moment itu rasanya aku ingin menangis Pahit untuk dikenang, dan tak ingin ku ulang. Hari demi hari berlalu cibiran mulai muncul dari mulut tetangga yang mulutnya tidak ada filter nya. Yang masih ku ingat dan masih terngiang dari mulutnya "Naon teu sakola rek dagang es siga bapak" hhmmm tanpa aling aling perkataan itu keluar dari mulutnya, tanpa merasakan apakah dampak yang akan terjadi kepada seorang anak kecil yang berusia kurang dari 15 tahun.
Aku pun berlari ke kamar, dan menangis tiada henti, hampir setiap malam aku menangis dan melamun untung teu gelo ge hehehe. Dan tak lupa aku berdoa dan bertekad aku pasti bisa sukses, suatu saat akan ku sumpal mulutnya dengan prestasi yang aku dapatkan.
Satu tahun berlalu dengan hanya berdiam diri dirumah saja tanpa melakukan pekerjaan apapun selain membantu pekerjaan orang tua, mau bekerja juga bekerja mau jadi apa orang anak kecil, dan orang tua ku pun sadar mereka tak mau kalau aku sampai bekerja. Singkat cerita ada kakak sepupuku mengajakku untuk melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 10 Garut. Aku pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan keduaku, alasan aku melanjutkan sekolah karena sudah tak tahan dengan ocehan tetangga dan aku ingin membuktikan aku juga bisa sukses, mindset ku perlahan terbuka, mau sekolah dimana pun kita sendiri lah yang dapat mengubah diri kita. Untuk masuk SMA pun tak mudah, biaya untuk masuk SMA tak kalah besar seperti SMK namun karena katanya adanya keringanan jadi ibu pun setuju dan bersedia untuk memasukanku ke SMA. Ditengah perjalanan mau masuk SMA ada saja ulah tetangga yang menghasut ibuku kalau masuk SMA harus dibayar lunas tidak dapat dicicil padahal kenyataanya tidak. 
Sudahlah jangan dibahas yang itu, kita bahas saja bagaimana dulu waktu di SMA, nah tibalah waktu masuk MOS, disaat teman seangkatan sudah naik ke kelas sebelas aku malah baru masuk kelas sepuluh. Perasan malu pun tak bisa ku sembunyikan tiap kali bertemu teman seangkatan sewaktu SMP aku memilih untuk tidak menegurnya. Untuk prestasi di SMA lumayan sedikit cerah khususnya prestasi non akademik, dulu aku berhasil menjuarai kejuaraan futsal antar pelajar sekabupaten Garut waktu kelas 10, kemudia dikelas 11 menjadi runner up, dan beberapa piala kejuaraan futsal open mewakili SMA 10 Garut. Prestasi akademik berada di rangkin 5 besar kelas dan mewakili olimpiade kebumian.
Wah lumayan panjang yah cerita singkatku hehehe nanti dilanjut ya klo ada yang komen lanjutkan dikolom komentar.

Posting Komentar

 
Top